JAKARTA - Memasuki akhir tahun 2014, perbincangan seputar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) makin hangat. Banyak pihak memandang MEA yang akan berlaku pada Desember 2015 itu sebagai ancaman bagi Indonesia. Sementara itu, ada juga pihak yang menilai MEA 2015 adalah tantangan dan peluang yang harus dihadapi dengan segala persiapan.
![]() |
| Sumber gambar : www.yugoblog.com |
Pengamat dari Universitas Bakrie, Muhammad Badaruddin, cenderung sepakat dengan pandangan kedua.
“Harusnya kita masukkan ini (MEA 2015, red) sebagai tantangan yang kita manfaatkan,” kata Badar saat menjadi narasumber “Lesehan Demokrasi” yang digelar Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Selasa (25/11/2014), di Jakarta.
Namun demikian, Badar tidak menafikan bahwa perasaan pesimistis sebagian masyarakat Indonesia terhadap MEA cukup beralasan. Hal itu dikarenakan, misalnya masih rendahnya kualitas SDM dan daya saing global bangsa Indonesia.
“Beberapa negara selain Indonesia di kawasan ASEAN juga masih ada yang sama pesimisnya,” lanjut Ketua Umum PP KAMMI 2001-2002 itu.
Oleh karena itu, dirinya menyarankan bahwa pemerintah harus bekerja ekstra untuk segera menuntaskan persiapan jelang MEA 2015. Segala potensi yang dimiliki bangsa Indonesia, menurut Badaruddin, mestinya bisa menjadi nilai plus bagi Indonesia agar dapat bersaing nantinya.
Lebih lanjut, Badar juga menyebut bahwa gerakan mahasiswa, misalnya KAMMI, sebaiknya turut andil mengambil peran menyonsong MEA 2015.
“Meningkatkan kompetensi dan melakukan kanalisasi profesi kader sesuai keahlian masing-masing adalah salah satu hal yang bisa KAMMI lakukan,” terang Kepala Studi Politik dan Pemerintahan Universitas Bakrie itu.
Badarud juga menyarankan agar KAMMI sebagai gerakan mahasiswa melakukan people to people diplomacy dalam rangka penguatan jaringan.
Adapun bentuk “diplomasi sesama warga” itu, jelas Badar, bisa dilakukan dengan melakukan komunikasi dan kerja sama antar lembaga kepemudaan atau NGO se-ASEAN, misalnya ASEAN Foundation, ABIM, PEPPIAT, dan sebagainya.
Senada dengan Badar, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP KAMMI, Sofyardi Rahmat, juga berpandangan bahwa kompetensi para pemuda adalah kunci sukses menghadapi MEA 2015.
“Tantangan bagi generasi muda adalah memperkuat kompetensi. Karena dengan skill yang memadai dan keunggulan pribadi maka kita akan mampu bersaing,” pungkas Ardi. (Humas PP KAMMI)
Sumber : www.kammi.or.id


0 komentar :
Posting Komentar